• This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.

Wednesday, October 23, 2013

Sayang Namun tak Lagi Merasa Aman

Saya ingin menelaah perjalanan hubungan saya dengan Zee dari awal sampai sekarang. Tujuannya bukan untuk menyalahkan Zee, tetapi untuk melihat pola yang sudah terjadi selama hubungan ini, lalu menjadikannya bahan pertimbangan: jika pola masa lalu ini berlanjut setelah menikah, kira-kira seperti apa masa depan saya bersama Zee?

Saya menyadari bahwa keputusan menikah bukan hanya soal rasa sayang, tetapi juga soal kecocokan nilai, rasa aman, rasa hormat, batasan, keluarga, dan kemampuan dua orang untuk menjaga satu sama lain. Karena itu, saya perlu jujur melihat hal-hal yang selama ini sudah melewati batas toleransi saya.

1. Hal-hal yang sudah melewati batas toleransi saya

Hal pertama yang sangat membekas adalah kejadian ketika Zee mabuk di Bali dan mencium beberapa bule di bar. Ini adalah salah satu hal yang paling saya sesalkan untuk saya lihat langsung, karena saya tahu itu sudah berada di luar batas toleransi saya. Rasanya, terserah dia mau melakukan apa, tapi jangan di depan saya. Sebelum itu, di hari ulang tahunnya yang ke-23, dia juga mabuk dan mencium teman-temannya, baik perempuan maupun laki-laki.

Yang membuat ini semakin berat adalah kejadian itu terjadi setelah saya menyampaikan niat serius untuk menikah dengannya. Kalau saat itu saya tidak pernah mengajak dia menikah, mungkin saya tidak akan terlalu peduli. Tapi karena saya sudah serius, seharusnya kejadian itu menjadi tanda besar buat saya bahwa mungkin dia bukan perempuan yang saya cari.

Saat itu Zee berjanji akan berhenti minum. Dia juga meyakinkan saya bahwa kejadian-kejadian itu terjadi karena alkohol, karena saat itu saya belum mengajak dia pacaran secara jelas, dan karena dia merasa dirinya bukan orang yang mungkin selingkuh. Saya berusaha keras untuk memahami, memaklumi, dan berharap dia akan berubah menjadi lebih baik.

Namun setelah itu, saya mengalami salah satu masa paling menyakitkan dalam hidup saya, yaitu ketika Zee kembali berhubungan intens dengan mantannya, Didit, dalam proses handover squad Batam. Saya merasa ada banyak hal yang tidak wajar dalam proses ini.

Pada assignment project kedua Shine, Zee mengajukan diri menjadi Product Owner. Di titik ini, saya merasa ada kemungkinan dia memilih posisi itu karena tahu Didit tidak lanjut sebagai PO squad Batam dan akan ada proses handover. Saya merasa seolah-olah situasi itu sudah dia rencanakan agar bisa kembali dekat dengan Didit.

Proses handover berlangsung sangat panjang, dari Juni 2025 bahkan sampai Desember dan Januari masih ada komunikasi. Saya sempat menawarkan diri untuk menjadi penengah proses handover tersebut, tetapi Zee menolak dengan alasan mereka sudah dewasa dan bukan anak kecil yang tidak bisa handover sendiri. Padahal dalam proses handover PO di squad lain, saya biasa memfasilitasi hal seperti itu.

Selama Juni sampai September, mereka hampir setiap hari berkomunikasi melalui WhatsApp, iMessage, atau Teams. Bahkan selama Juli dan Agustus, hampir setiap minggu mereka bertemu di luar kantor. Mereka pernah nonton bareng, makan bareng, belanja bareng, bahkan ada baju yang dibeli Zee saat belanja bersama Didit dan baju itu sering sekali dia pakai.

Salah satu kejadian yang paling membuat saya marah adalah ketika Zee pernah mengajak saya ke toko brand baru versi murahnya Zalora, tetapi orang yang akhirnya dia bawa ke sana justru mantannya. Itu sakit sekali buat saya. Saat mereka sedang belanja, saya sempat menelepon dan yang mengangkat telepon ternyata penjaga toko karena HP Zee dititipkan untuk di-charge. Setelah itu saya menelepon lagi beberapa kali, tetapi Zee marah-marah karena merasa saya mengganggu dia yang sedang bersama temannya. Ternyata setelah belanja, mereka lanjut minum bersama.

Sampai sekarang, Zee tidak pernah benar-benar menunjukkan bukti bahwa setelah minum bersama Didit dia langsung pulang ke rumah. Awalnya dia bilang selesai jam 12, lalu keterangannya berubah menjadi sampai jam 2. Penjelasannya berubah-ubah, dan itu membuat saya semakin sulit percaya.

Setelah kejadian minum bersama Didit, Zee datang kepada saya dan meminta waktu sampai akhir tahun. Padahal masa itu seharusnya menjadi masa khitbah, masa saling menjaga diri dari orang lain dan saling mengenal satu sama lain dengan lebih serius. Tapi yang saya lihat justru Zee semakin tidak mampu membatasi diri dengan pria lain.

Sekarang saya melihat pola yang mirip muncul lagi dengan Zio. Zee memutuskan tetap menjadi PO Rote dan meninggalkan project yang memiliki exposure ke BOD. Keputusan ini menjadi pertanyaan banyak orang, termasuk PUK-nya. Setelah saya pikirkan lebih dalam, saya merasa alasan Zee tetap di Rote bukan semata-mata karena pekerjaan, tetapi karena ada Zio di sana.

Saya melihat Zio sering menggoda Zee, bahkan di tempat terbuka di kantor dia bisa merangkul Zee. Saya jadi berpikir, kalau di tempat terbuka saja seperti itu, bagaimana ketika mereka sedang berdua? Mereka juga sering nongkrong bareng, bahkan saya merasa Zee cenderung datang ke kantor sambil mengajak Zio agar ada temannya.

Mereka juga sudah beberapa kali mabuk bersama. Saya juga melihat ada kedekatan fisik, seperti pegangan tangan saat memasang tato di tangan. Beberapa minggu terakhir saya sering melihat tato di tangan Zee. Ketika saya tanya siapa yang memasangkan, dia hanya menjawab dengan nada bercanda. Nada yang sama juga muncul ketika saya bertanya apakah dia membelikan sesuatu untuk Zio.

Saya merasa sangat lelah. Kalau dalam masa yang seharusnya Zee sedang berbunga-bunga dengan saya saja kondisinya sudah seperti ini, bagaimana nanti setelah menikah, ketika mungkin sudah tidak ada lagi “asupan” perhatian dan hal-hal menyenangkan dari masing-masing? Saya khawatir Zee akan mencari validasi, perhatian, atau kesenangan dari orang lain, dan itu akan menjadi bomerang besar untuk saya.

Saya sangat hafal gelagat Zee ketika sedang suka dengan seseorang, sedang mendekati seseorang, atau sedang berbohong. Namun seperti biasa, saya sering memilih mengikuti permainannya, walaupun sebenarnya saya menangkap pola yang sama. Dia sering sembunyi-sembunyi membalas chat, tertawa-tawa saat membalas chat, bahkan setelah tidur dengan saya pun dia masih membalas chat yang kemungkinan besar dari Zio.

Selain Didit dan Zio, saya juga punya firasat ada laki-laki lain. Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak, tetapi firasat saya sangat kuat ke arah sana.

2. Pola minum dan merokok

Zee sering meyakinkan saya bahwa dia minum hanya untuk mencari sensasi fun. Tapi dari yang saya lihat, saya merasa tidak sesederhana itu.

Saya melihat Zee minum ketika sedang stres. Ketika tidak ada uang atau tidak ada teman yang bisa diajak minum, dia bisa minum sendiri di rumah. Di sisi lain, ketika ada teman yang mengajak, dia juga minum untuk happy-happy, dan ini yang paling sering terjadi.

Bagi saya, alkohol bukan hanya soal minumannya, tetapi tentang konsekuensi perilaku setelahnya. Banyak kejadian yang melukai saya justru terjadi saat Zee minum. Karena itu, saya sulit melihat alkohol sebagai sesuatu yang netral dalam hubungan ini.

Soal merokok, dalam keluarga saya perempuan merokok dipandang sangat buruk. Saya sudah menyampaikan ini beberapa kali ke Zee. Namun yang saya lihat, kebiasaan merokoknya justru semakin parah, terutama sejak dia dekat dengan banyak laki-laki perokok. Saya merasa rokok menjadi semacam jembatan bagi Zee untuk mendapatkan panggung, atensi, dan kedekatan dengan orang-orang tertentu, terutama laki-laki yang dia suka seperti Zio dan Fikri.

3. Hal fundamental yang membuat saya merasa tidak cocok dengan Zee

Hal paling fundamental adalah Zee tidak bisa membatasi diri dengan laki-laki lain. Ini adalah batasan yang sangat tidak bisa saya toleransi. Saya sudah berkali-kali memberi contoh kepada Zee tentang seperti apa pertemanan yang wajar dan tidak wajar. Saya sendiri berusaha tidak membuka peluang komunikasi dengan orang-orang yang bisa membuat Zee berpikir saya mengkhianatinya.

Namun dalam kasus Zee, saya melihat batasan itu sering dilanggar. Dia bisa jalan dengan mantannya, makan berdua, minum berdua, dan menjadikan alasan pekerjaan atau handover sebagai pembenaran. Bahkan setelah kejadian dia minum dengan Didit dan tidak bisa saya hubungi selama dua hari, dia masih tidak benar-benar menunjukkan kejelasan kepada saya.

Saya juga melihat pola yang sama sekarang. Ketika membalas chat, Zee sering menyembunyikan layar HP-nya dengan memutar badan agar saya tidak bisa melihat. Padahal kalau dia sedang chat dengan keluarga atau hal-hal biasa, dia tidak bersikap seperti itu. Ini membuat saya merasa ada chat tertentu yang memang ingin dia sembunyikan.

Zee juga tidak pernah mau HP-nya saya buka dengan alasan privasi. Saya bisa memahami privasi, tetapi bagi saya ada ketidakkonsistenan. Kalau privasi itu prinsip yang sangat dia pegang, seharusnya dia juga tidak membuka HP saya. Kalau semua ini murni soal privasi, kenapa perlakuannya berbeda antara chat tertentu dengan chat keluarga atau chat biasa?

Saya juga merasa Zee sangat pintar mencari perhatian dari laki-laki yang dia suka. Dia tahu bagaimana membuat dirinya menarik, bagaimana membuka ruang, dan bagaimana membuat orang lain merasa punya akses ke dia.

4. Hubungan dengan orang tua dan keluarga

Hal lain yang sangat mengganggu saya adalah sikap Zee terhadap orang tua dan keluarga saya. Ketika pertama kali bertemu orang tua saya, dia marah-marah dan tidak terima karena merasa keluarga saya menanyakan soal rencana menikah. Dia membandingkan dengan keluarganya yang menurut dia tidak mungkin menanyakan hal seperti itu ketika pertama bertemu orang.

Padahal yang saya dengar, pertanyaan ayah saya disampaikan dengan hati-hati. Ayah saya hanya bertanya apakah sudah ada rencana atau belum, mengingat umur saya sudah cukup matang. Zee menjawab bahwa belum ada rencana dan saat ini jalani dulu saja. Jawaban itu menyakitkan buat saya, karena saya merasa dia tidak mengakui bahwa saya sudah pernah mengajaknya menikah.

Saya merasa ada dua hal yang kontras di sini. Pertama, alasan Zee marah kepada keluarga saya menurut saya tidak cukup kuat. Kalau memang keluarganya seterdidik dan sebermoral itu, seharusnya dia bisa lebih memaklumi orang tua saya, apalagi dia sedang dekat dengan anaknya dan mereka berpotensi menjadi calon mertuanya. Dari yang saya lihat pada orang lain yang benar-benar serius ingin menikah, mereka biasanya berusaha mengambil hati calon mertua. Tapi Zee justru sebaliknya.

Kedua, Zee mengatakan kepada orang tua saya bahwa tidak ada hubungan apa-apa dan hanya jalani dulu saja. Itu mengecewakan saya. Rasanya sakit tidak diakui, bahkan di depan orang tua saya sendiri.

Zee juga beberapa kali bertanya kepada saya, kalau sudah menikah dan ada konflik, saya akan memilih orang tua saya atau dia. Bagi saya, pertanyaan itu sudah mem-framing pikiran saya bahwa saya harus memilih antara keluarga saya atau pasangan saya. Padahal bagi saya, pernikahan seharusnya bukan tentang memisahkan seseorang dari keluarganya.

Belum menikah saja Zee sudah membuat saya merasa dilema antara orang tua dan pasangan. Pertemuan pertama yang seharusnya bisa menjadi ajang untuk mengambil hati orang tua saya justru berubah menjadi konflik. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana nanti kalau sudah menikah?

5. Saya family-man, sedangkan Zee sangat individualis

Saya merasa saya adalah orang yang sangat family-man. Saya dekat dengan keluarga, suka suasana kumpul, makan bareng, syukuran, dan sejak sebelum bertemu Zee pun saya menyukai anak kecil. Sementara itu, saya melihat Zee sangat individualis.

Beberapa kali saya mendengar pernyataan Zee yang membuat saya merasa tidak bisa menjadi diri saya sendiri sebagai orang yang dekat dengan keluarga. Zee pernah merasa keluarga saya tidak terdidik dan bermoral rendah. Dia juga tidak nyaman dengan beberapa kebiasaan keluarga saya, misalnya ketika makan di lantai dan ada yang kakinya berdiri. Hal-hal seperti ini membuat saya merasa, kalau saya menikah dengan Zee, saya harus mengurangi intensitas bertemu keluarga saya. Lebih jauh lagi, saya merasa Zee secara perlahan bisa menjauhkan saya dari keluarga saya.

Zee juga tidak mau mempertemukan keluarga besar saya dengan keluarga besarnya karena menurutnya perbedaan kedua keluarga terlalu kontras dan tidak mungkin berada dalam satu acara. Bagi saya, ini membuat saya merasa Zee hanya menerima saya, tetapi tidak menerima keluarga saya.

Perbedaan nilai ini semakin terlihat dari hal-hal lain. Zee tidak suka sering kumpul, tidak mau meminjamkan mobil meskipun untuk keluarga, dan tidak mau memberi pinjaman uang kepada keluarga. Saya memahami bahwa setiap orang punya batasan, tetapi bagi saya keluarga memiliki tempat yang sangat penting.

Saya juga punya hutang budi besar kepada abang-abang saya yang membiayai kuliah saya, bahkan sampai mengorbankan kondisi ekonomi mereka sendiri. Karena itu, saya tidak mungkin menjadi orang yang cuek terhadap keluarga saya.

6. Saya merasa tidak bisa menjadi diri saya sendiri

Dalam hubungan ini, saya sering merasa tidak bisa menjadi diri saya sendiri. Saya merasa tidak bisa marah atau meluapkan emosi secara bebas, karena saya khawatir itu akan memengaruhi kondisi Zee dan memicu hal-hal yang lebih besar. Akhirnya saya merasa harus menahan banyak hal yang sebenarnya sangat saya benci.

Saya juga merasa Zee cenderung lebih memikirkan dirinya sendiri, sedangkan saya sering memikirkan dia dalam setiap langkah yang saya ambil. Ketimpangan ini membuat saya semakin lelah.

Selain itu, saya merasa banyak keputusan saya dicecar dan ditentang. Mungkin sebagian tujuannya baik, tetapi sering kali saya merasa tekanan itu muncul karena keputusan saya tidak sesuai dengan kepentingan Zee. Saya merasa stres ketika dicecar oleh Zee.

Misalnya ketika saya ingin membangun rumah, saya dicecar. Ketika membahas kejelasan karier, saya juga merasa tertekan, apalagi karena Zee memiliki ekspektasi minimal gaji 50 juta. Saya merasa hidup saya seperti terus dinilai dari kemampuan memenuhi standar dan kepentingannya.

7. Forecasting jika hubungan ini dilanjutkan ke pernikahan

Jika saya melihat pola masa lalu dan menggunakannya untuk memprediksi masa depan, saya merasa ada beberapa risiko besar.

Pertama, saya khawatir Zee tetap akan sulit membatasi diri dengan laki-laki lain. Jika di masa sebelum menikah saja batasan itu sudah sering dilanggar, maka setelah menikah risikonya bisa lebih besar, terutama ketika hubungan sudah tidak lagi seintens atau seromantis sekarang.

Kedua, saya khawatir saya akan terus hidup dalam rasa curiga, tidak aman, dan tidak tenang. Saya akan terus membaca gelagat, memperhatikan chat, mempertanyakan ke mana dia pergi, dengan siapa dia pergi, dan apakah dia jujur kepada saya. Itu bukan kehidupan pernikahan yang saya inginkan.

Ketiga, saya khawatir konflik keluarga akan menjadi masalah besar. Saya sangat dekat dengan keluarga saya, sedangkan Zee tampak tidak nyaman dengan keluarga saya. Kalau ini tidak berubah, saya akan terus berada dalam posisi sulit antara pasangan dan keluarga.

Keempat, saya khawatir saya akan semakin kehilangan diri sendiri. Saya akan terus menahan emosi, menekan rasa sakit, dan memaksakan diri untuk memahami hal-hal yang sebenarnya sudah berkali-kali melewati batas toleransi saya.

Kelima, saya khawatir Zee juga tidak akan bahagia bersama saya. Mungkin dia masih ingin bebas, berkelana, mencoba banyak hal, mendapat perhatian dari banyak orang, dan menjalani hidup dengan caranya sendiri. Sementara saya menginginkan ketenangan, rasa hormat, komitmen, dan batasan yang jelas.

8. Kesimpulan sementara

Saya sudah berusaha memberikan kasih sayang kepada Zee sebisa dan semampu saya. Yang saya harapkan sebenarnya sederhana: ketenangan, rasa dihormati, dan rasa aman. Misalnya, tidak membuka peluang bagi laki-laki lain. Atau kalau memang harus pergi dengan laki-laki lain, setidaknya bilang dan minta izin. Bukan karena saya ingin mengontrol atau merasa lemah, tetapi karena bagi saya itu adalah bentuk penghormatan kepada pasangan.

Saya tidak ingin menyalahkan Zee sepenuhnya. Mungkin kami bertemu dalam kondisi yang tidak tepat. Saya bertemu dengan Zee ketika dia belum siap untuk berkeluarga. Saya bertemu dengan Zee ketika energinya masih penuh, rasa berkelananya masih tinggi, dan keinginannya untuk mencoba banyak hal masih besar.

Sementara bagi saya, menikah bukan hanya menyatukan dua orang. Menikah juga menyatukan dua keluarga besar, dua nilai hidup, dua cara berpikir, dan dua cara menjalani kehidupan.

Dengan kondisi kami masing-masing saat ini, saya merasa jika hubungan ini dipaksakan berlanjut ke pernikahan, hasilnya berpotensi tidak baik untuk saya maupun Zee. Zee mungkin akan merasa tidak bahagia dengan saya, dan saya pun akan merasa tidak bahagia dengan dia. Potensi perpisahan akan sangat tinggi. Padahal sejak awal saya sudah menekankan bahwa dalam diri saya dan budaya keluarga saya, perceraian adalah aib yang sangat besar.

Biasanya saya hanya butuh satu pelanggaran besar terhadap batas toleransi saya untuk bisa pergi dari seseorang. Namun dengan Zee, sudah banyak batas yang dilanggar, dan saya tetap bertahan sejauh ini.

Ada dua alasan utama kenapa saya masih bertahan. Pertama, saya tidak pernah sesayang dan seserius ini kepada orang sebelumnya. Kedua, saya sangat berharap Zee berubah.

Tapi sekarang saya perlu bertanya dengan jujur kepada diri saya sendiri: apakah saya mencintai Zee yang nyata hari ini, atau saya mencintai versi Zee yang saya harapkan akan berubah suatu hari nanti?

Monday, October 14, 2013

hello word java

kali ini saya akan berbagi tentang program dasar dengan java. praktekkan
semoga bermanfaat bagi teman-teman yang masih belajar java dasar,
dan bagi para master mohon kritik dan saran nya karena penulis juga masih dalam
proses belajar.

berikut ini contoh program java dengan output "Hello word"
ada 3 caranya, langsung saja kita praktekan... cekidoot :D

cara yang pertama

public class HelloWord {
public static void main(String [] arg){
System.out.println("Hello word");
}
}


cara yang ke dua :

public class HelloWord {
public static void main(String [] arg){
String a = "Hello word";
System.out.println(a);
}
}


cara yang ke tiga yaitu dengan inputan, di sini saya menggunakan Scanner.

import java.util.Scanner;
public class HelloWord {
public static void main(String [] arg){
String a
Scanner masukan = new Scanner(System.in);
a = masukan.nextLine();
System.out.println(a);
}
}

HILANG

tersenyumlah saat kau mengingatku
karena saat itu, aku saaangat merindukan mu
dan menangislah saat kau merindukan ku
karena saat itu aku tak berada di samping mu

tetapi,
pejamkanlah mata indah mu itu
karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu
karena aku tlah berada di hati mu untuk selama nya

tak ada yang tersisa lagi untuk ku
selain kenangan-kenangan yang indah bersama mu
mata indah yang dengan nya aku biasa melihat keindahan cinta
mata indah yang dahulu adalah milik ku
kini semuanya terasa jauuuh meniggalkan ku

kehidupan trasa kosong tanpa keindahan mu
hati, cinta dan rindu ku adalah milik mu
cinta mu takan pernah membebaskanku
bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
saat sayap-sayap ku telah patah karena mu

cinta mu akan tetap bersama ku
hingga ahir hayatku
dan setelah kematian
hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi

betapa pun hati telah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
yang tengah menghidupkan sinar redupkuh
namun tak dapat menyinari
dan menghangatkan perasaan ku yang sesungguh nya

aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain selain cinta mu
karena mereka tak tertandingi oleh sosok dirimu dalam jiwaku
kau takan pernah terganti
bagai pecahan logam
yang memekalkan kesungian, kesendirian dan kesedihan ku

kini aku telah kehilangan mu

Thursday, October 3, 2013