• This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.

Monday, March 7, 2022

🧢 Mengenal 8 Topi Seorang Scrum Master: Lebih dari Sekadar Fasilitator

 Banyak yang mengira peran Scrum Master hanya sebagai fasilitator meeting atau penjaga jadwal. Padahal, menjadi Scrum Master jauh lebih luas dan strategis dari itu. Scrum.org dalam whitepaper-nya memperkenalkan konsep "8 Stances of a Scrum Master" — delapan peran penting yang menggambarkan kompleksitas dan kekayaan tanggung jawab seorang Scrum Master.

Yuk kita bahas satu per satu!

1. Pemimpin yang Melayani (Servant Leader)

Scrum Master adalah pemimpin yang melayani, bukan memerintah. Ia membantu tim mencapai tujuan dengan menghilangkan hambatan, mendengarkan kebutuhan tim, dan menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi serta pertumbuhan. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Servant Leader Link...

2. Coach (Pelatih)

Scrum Master membimbing individu dan tim untuk meningkatkan efektivitas, memahami Scrum secara mendalam, serta mendorong self-management. Coaching bukan hanya tentang memberi jawaban, tapi membantu tim menemukan jawabannya sendiri. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang coaching Link...

3. Fasilitator

Dalam berbagai sesi seperti Sprint Planning, Review, dan Retrospective, Scrum Master berperan sebagai fasilitator yang netral. Ia memastikan diskusi berjalan terarah, inklusif, dan menghasilkan keputusan yang bermakna. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Facilitator Link...

4. Teacher (Pengajar)

Scrum Master adalah sumber pembelajaran untuk tim. Ia mengajarkan nilai-nilai Scrum, praktik Agile, serta membantu semua orang (termasuk stakeholder) memahami peran mereka dalam kerangka kerja ini. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Teacher Link...

5. Mentor

Berbeda dengan coach, sebagai mentor Scrum Master berbagi pengalaman pribadi, wawasan, dan nasihat kepada anggota tim yang lebih baru atau sedang berkembang dalam peran Agile mereka. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Mentor Link...

6. Manajer

Ini bukan tentang “mengatur” tim, tapi lebih ke manajemen sistem kerja. Scrum Master memastikan lingkungan kerja sehat, tools mendukung kolaborasi, serta proses berjalan dengan lancar dan berkelanjutan. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Manager Link...

7. Change Agent (Agen Perubahan)

Scrum Master mendorong perubahan budaya dan pola pikir. Ia memfasilitasi transformasi Agile di level organisasi dan menantang status quo untuk mendorong perbaikan terus-menerus. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Change Agent Link...

8. Impediment Remover (Penghilang Hambatan)

Ketika tim menemui halangan, Scrum Master tidak tinggal diam. Ia bergerak cepat untuk membantu menyelesaikan isu—baik yang berasal dari dalam tim, maupun dari luar tim. Berikut postingan saya yang membahas khusus tentang Impediment Removal Link...

Kesimpulan : Bukan Sekadar Role, tapi Sebuah Seni

Delapan topi ini menggambarkan bahwa Scrum Master adalah profesi yang dinamis, kompleks, dan sangat berharga. Seorang Scrum Master yang efektif mampu mengenakan berbagai “topi” ini secara fleksibel, sesuai dengan konteks dan kebutuhan timnya.

Kalau kamu adalah Scrum Master, topi mana yang paling sering kamu pakai? Atau topi mana yang ingin kamu kembangkan lebih lanjut?

Sunday, January 30, 2022

Agile Story Point

 Menurut definisi dari Atlasian "Story Point adalah ukuran estimasi untuk mengerjakan sebuah product backlog atau sebuah kerjaan. Estimasi terhadap rumitnya, resikonya, lamanya, banyaknya sebuah pekerjaan". Inti dari story point adalah estimasi ukuran pekerjaan.

contoh ukuran teknik untuk menentukan estimasi ukuran story point :

1. Planning Poker 

teknik estimasi ukuran story point dengan planning poker adalah point nya mengikuti angka Fibonacci yaitu 1,3,5,8,13,21, dst.

2. Ukuran T-Shirt

teknik ini meng-estimasi ukuran pekerjaan dimana nilai point nya mengikuti ukuran baju yaitu XS, S, M, L, XL, XXL

3. Bucket System

teknik pengukuran pekerjaan dengan bucet system adalah mengukur pekerjaan dengan nilai point 0,1,2,3,4,5,8,13,20,30,50,100,200.

4. Dot Voting

titik sebagai tanda estimasi dari setiap tim

5. Affinity Estimation

estimasi dengan mengumpulkan story yang sejenis.

sebenarnya masih banyak teknik untuk melakukan estimasi ukuran pekerjaan, biasanya yang paling sering di pakai adalah Planning Poker yaitu point nya mengikuti nilai Fibonacci.

estimasi ini mempunyai banyak manfaat yaitu mempermudah tim untuk mengukur kemampuan tim dan tugas yang akan di selesaikan dan mempermudah tim dan product owner untuk menentukan seberapa banyak value yang bisa dideliver di setiap sprint.

pendekatan dengan story point ini adalah alternatif pendekatan estimasi man-hour yang biasa digunakan pada project konvensional.


BAGAIMANA KALAU ESTIMASI KITA TERNYATA MELESET?

misal pada awal kita mengestimasikan nilai storynya adalah 3 story point, ternyata ketika eksekusi pekerjaan nya cukup sulit yang setara dengan 5 story point. 

Apa yang mestinya kita lakukan? 
apakah kita perlu mengubah story point nya menjadi 5 atau biarkan saja story point nya tetap 3?

Satu hal yang perlu diingat adalah Story Point dan Velocity bukanlah sesuatu yang dianggap bagian dari Scrum. Sehingga untuk kasus diatas, dikembalikan lagi ke tim, bagaimana sebaiknya mengatur dan menyikapi kasus diatas.

Biasanya ada 2 pendekatan untuk masalah ini :

Pendekatan pertama mengacu kepada estimasi pada dasarnya hanyalah perkiraan, sehingga kalaupun meleset, maka dianggap tidak apa-apa. Tidak perlu untuk mengubah story point yang sudah kita estimasi dari awal. Evaluasi mengenai estimasi yang meleset ini bisa dibahas di sprint Retrospective. Agar nanti bisa diperbaiki di sprint berikutnya. Bisa jadi karena kita tidak memperhitungkan faktor risk dalam penentuan story point, atau story nya tidak detil sehingga kita tidak tepat dalam estimasi story point.

Pendekatan kedua mengacu kepada esensi bahwa sprint haruslah merepresentasikan kapasitas tim dalam melakukan sesuatu. Yang digambarkan dari jumlah story point. Dalam hal ini mengubah story point merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dan hal ini sah-sah saja karena cukup beralasan.

Kesimpulannya :

Dua pendekatan diatas boleh-boleh saja, tetapi biasanya yang dilakukan adalah pendekatan pertama, dimana story point adalah dianggap sebagai estimasi saja, yang bisa salah dan bisa benar. Tidak perlu mengubah story point yang sekarang. Jadikan kesalahan itu sebagai bahan perbaikan di sprint berikutnya.

Sunday, November 14, 2021

Rumus Excel - Fungsi IFERROR. contoh, dan cara penggunaannya

seperti yangtelah dijelaskan pada daftar fungsi excel atau daftar rumus excel itu sangat banyak, kali ini kita akan membahas tentang rumus excel jenis logika. pada daftar rumus excel telah di-sounding jenis rumus excel logika ada 5, salah satunya adalah rumus IFERROR.

Rumus IFERROR digunakan untuk antisifasi jika ada error dengan memberikan keterangan jenis error atau penyebab errornya, dengan begitu dapat membantu kita menelusuri penyebab error dan memperbaikin nya.


Format rumus / cara penulisan rumus

=IFERROR(KALKULASI; NILAI_ERROR)

Kalkulasi

Kalkulasi adalah proses kalkulasi yang diuji, apakah error atau tidak.

Nilai Error  

Nilai error adalah nilai yang diproses (execute) jika Kalkulasi menghasilkan error.


Cara Penggunaan

=IFERROR(A+2; "Nilai yang harus dimasukkan harus angka")

 


berikut hasil setelah rumus dijalankan :


Contoh penggunaan rumus lain nya 

berikut adalah contoh menjalankan proses kalkulasi jika proses kalkulasi pertama error, jalankan proses kalkulasi berikutnya.

proses kalkulasi 1 : A3+B3
proses kalkulasi 2 : A2-B2


dari proses diatas, proses kalkulasi 1 adalah proses yang menghasilkan error. sehingga yang  proses kalkulasi 2 dijalankan. dari rumus diatas hasil yang muncul adalah -2, dimana nilai tersebut hasil dari proses kalkulasi 2 (1-3).

 

Friday, October 1, 2021

Situasi yang tepat menggunakan SCRUM ?

Saat ini anda sedang mempelajari apa itu Scrum, saya yakin 90% passion anda adalah dibidang IT. Karena saat ini di Indonesia sebagian besar peminat yang mempelajari Scrum adalah dibidang IT, namun tidak sedikut pula yang belum aware terhadap hal ini. Namun ketahuilah bahwa Scrum bisa di implementasikan pada bidang IT saja.

Lalu case seperti apa yang tepat menggunakan SCRUM ?
Masalah seperti apa saja yang dapat diselesaikan dengnan SCRUM ?


Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan motede Cynefin Framework. Cynefin Framework merupakan alat untuk membantu memahami situasi yang dihadapi sehingga dapat membuat keputusan yang tepat. CYNEFIN diambil dari kata Welsh yang artinya “tempat” atau “habitat” dan menggambarkan berbagai faktor eksternal yang memengaruhi cara kita berpikir dan mengambil keputusan.

Cynefin Framework mengklasifikasikan masalah kedalam lima situasi berdasarkan hubungan sebab-akibat, yaitu :

  1. Simple, diketahui
  2. Complecated, dapat diketahui
  3. Complex, tidak diketahui
  4. Chaotic, tidak jelas
  5. Disordered, tidak dapat ditentukan
untuk mempermudah memahami penulis menggunakan narasi, hal ini berbeda dengan versi cynefin yang menggunakan istilah-istilah. jadi jika ada kesalahan penerjemahan penulis mohon masukannya.





 Disordered disebut sebagai situasi yang tidak dapat dikategorisasikan dalam empat situasi lainnya. Yang harus Anda lakukan jika menemukan situasi seperti disordered adalah mengumpulkan lebih banyak informasi sehingga Anda dapat mengategorisasikan situasi tersebut dan mampu mengambil tindakan pemecahan masalah yang efektif.

Menjawab pertanyaan di atas, situasi yang tepat menggunakan Scrum adalah ketika berada di situasi Complex. salah satu contoh yang dikategorikan komplex adalah pengembangan software. 

Sejarah SCRUM

Pada tahun 1993, tulisan dari profesor Takeuchi Tanaka tentang Manajemen Proyek dipulikasikan dalam Harvard Business Review. Tulisan tersebut memuat kekaguman Profesor Takeuchi Tanaka terhadap tim olahraga Rugby yang bekerjasama menyingkirkan semua hambatan yang ada didepannya, lalu profesor Takeuchi Tanaka membawa konsep tersebut kedalam Metode Kerja Manajemen Proyek yang diberi nama SCRUM.    

Tulisan tersebut dibaca oleh Jeff Sutherland yang saat itu dia bekerja di Easel Corporation. Pada tahun 1994, Jeff mengajak Ken Schwaber untuk bergabung di perusahaan nya di Easel Corporation untuk mendokumentasikan dan memformulasikan Scrum.

Pada tahun 1996, hasil formulasi Ken dan Jeff dipresentasikan di konferensi OOPSLA. Sejak saat ini Scrum menjadi pilihan utama Sebagai Pengembangan Produk.

Scrum telah diadopsi oleh banyak Para Manager yang menginginkan Fleksibilitas yang tinggi dan menghasilkan produk yang sebaik  mungkin  dan Developer yang ingin memastikan mereka bisa melakukan pekerjaan mereka sebaik mungkin.

Beberapa perusahaan Multinasional yang menggunakan Scrum antara lain :

  1. Nokia
  2. Motorola
  3. 3M
  4. Google
  5. Capital One
  6. Bank of America
  7. Citibank
  8. BBC
  9. Yahoo!
  10. IBM
  11. Accenture
  12. Autodesk
  13. Amazon.com
  14. Boeing
  15. Microsoft
  16. Adobe
  17. Intel, dan masih banyak lagi perusahaan raksasa lain yang menggunakan Scrum.

Di Indonesia Scrum Telah banyak di implementasikan olah banyak perusahaan dan telah terbukti sukses membuat produk sebaik mungkin, mayoritas proyek teknoogi informasi.  



Tertarik tentang SCRUM lain nya ? Klik Disini....

Wednesday, September 29, 2021

Lean Thinking

Lean thinking adalah sebuah konsep dan filosofi manajemen yang pertama kali dikembangkan oleh Toyota pada tahun 1950-an. Prinsip utama dari lean thinking adalah mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan (waste) dalam proses produksi atau operasi bisnis untuk meningkatkan efisiensi, kualitas, dan kepuasan pelanggan. Prinsip ini kemudian diadopsi dan diterapkan dalam berbagai industri dan bidang, termasuk manufaktur, layanan, dan pengembangan produk. Berikut adalah beberapa konsep kunci dalam lean thinking:

  1. Pemborosan (Waste) adalah Musuh Utama: Lean thinking mengidentifikasi tujuh bentuk pemborosan yang harus dihindari, yaitu transportasi berlebihan, persediaan berlebihan, proses yang tidak efisien, waktu tunggu, gerakan berlebihan, perbaikan berlebihan, dan barang cacat. Menghilangkan pemborosan adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

  2. Maksimalkan Nilai Pelanggan: Prinsip utama dari lean thinking adalah memberikan nilai maksimal kepada pelanggan dengan menggunakan sumber daya yang minimal. Hal ini mencakup pemahaman yang mendalam tentang apa yang diinginkan pelanggan dan fokus pada pengembangan produk atau layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

  3. Proses Aliran Kerja (Flow): Lean thinking mendorong penciptaan aliran kerja yang lancar dan tidak terputus, sehingga produk atau layanan dapat diproses dengan cepat dan efisien dari awal hingga akhir. Hal ini mencakup menghilangkan rintangan, antrian, atau penundaan yang tidak perlu.

  4. Pembuatan Keputusan Berbasis Fakta: Keputusan yang diambil harus didasarkan pada data dan fakta yang akurat. Lean thinking mendorong penggunaan metode seperti pengukuran kinerja, analisis data, dan pengujian berulang untuk memahami dan meningkatkan proses.

  5. Keterlibatan Karyawan: Karyawan di semua tingkatan perlu terlibat aktif dalam usaha perbaikan dan eliminasi pemborosan. Mereka adalah sumber daya yang berharga dalam mengidentifikasi masalah dan menemukan solusi yang lebih baik.

  6. Peningkatan Berkelanjutan (Continuous Improvement): Lean thinking mendorong konsep Kaizen, yang berarti perbaikan berkelanjutan. Hal ini menggambarkan budaya organisasi yang selalu berusaha untuk menjadi lebih baik dengan cara terus menerus memperbaiki proses dan mengurangi pemborosan.

  7. Just-In-Time (JIT) Production: Prinsip JIT adalah menghasilkan produk atau layanan hanya pada saat mereka diperlukan, sehingga menghindari pemborosan persediaan berlebihan. JIT membantu menghemat biaya persediaan dan meningkatkan efisiensi produksi.

  8. Pembuatan Produk yang Kualitasnya Benar pada Awalnya: Lean thinking menekankan pentingnya mencegah cacat daripada mengoreksi mereka setelah produksi. Hal ini mencakup pengawasan kualitas yang ketat dan pelatihan karyawan untuk memastikan bahwa produk yang dihasilkan berkualitas tinggi.

Lean thinking telah berhasil diterapkan dalam berbagai industri dan sektor untuk mencapai penghematan biaya, peningkatan efisiensi, peningkatan kualitas, dan kepuasan pelanggan yang lebih besar. Penerapan konsep lean thinking memerlukan komitmen organisasi untuk perbaikan berkelanjutan dan perubahan budaya yang mendukung prinsip-prinsip lean.